(cerbung) selalu sayang

Oleh Gilang Sri Rahayu


bismillahirohmanirohim..

 “Keluar!!! Keluar kau dari sini!”, begitulah katanya saat aku datang mengunjungi anak perempuannya. Dengan bibir yang masih bergetar ia menunjuk arah yang harus aku lalui. Ayah, ya ayah. Dia adalah ayah dari orang yang aku sayangi. Wajah tua itu menunjukan kasih sayang yang teramat kepada anak semata wayangnya. Menurutku ini wajar, aku baru mengenalnya kemarin, dan hari ini aku menyatakan cintaku padanya. Aku mndatanginya ke rumahnya yang terletak jauh dari tempat tinggalku.

Sehari-hari aku melihat gadis ini mengajar di sebuah tempat pendidikan anak usia dini. Cantik dengan keramahan seorang guru serta kelembutan seorang ibu. Bagaimana bisa aku jatuh cinta kepada orang yang tak aku kenal? Semua bisa saja terjadi. Dari seorang teman aku mendapatkan berbagai informasi tentang gadis ini. Namanya Agil. Dan dari temanku juga aku tahu dimana tempat tinggalnya. Aku membayarnya dengan beberapa lembar mata uang untuk tiap informasi yang aku terima.hehe..

‘’Apa kamu yakin akan mendekatinya?’’, tanyanya.

‘’Sampai saat ini aku belum mengerti’’, jawabku.

‘’Aku temanmu, aku hanya tak ingin kamu kecewa. Dia berbeda dengan kita. Kita bisa melihatnya, diapun bisa. Tapi dia tak bisa mendengar dan tak bisa bicara seperti kita. Apa kamu yakin? Aku hanya tak ingin kamu kecewa “, tegasnya.

‘’kamu tidak mengerti! Begitu juga aku ‘’, aku menjawab sambil berlalu.

Mungkin memang benar aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan. Hari itu aku tak langsung pulang, aku ke toko buku untuk membeli buku pengajaran bahasa isyarat. Semua ini hanya untuk sekedar menyapanya. Tahukah kalian, isyarat pertama yang aku pelajari adalah ‘’hai cantik’’ aku ingin mengatakan itu padanya.

***

Mulanya aku hanya penasaran dengan Agil, sudah dua hari aku tak melihatnya. Saat aku cari dia di tempat ia mengajar aku tak mendapatonya di sana. Aku bertemu dengan penjaga sekolah yang saat itu sedang menyapu. Ia sudah tua dengan punggungnya yang telah membungkuk. Aku tak begitu mengamati yang lainnya.

Aku terlalu terburu-buru untuk mengamati yang lain, ‘’ Pak, apa guru Agil ada gitu ? ‘’.

‘’Hari ini sekolah pulang lebih awal, murid-murid dan guru sudah tidak ada ‘’, jawabnya.

Aku mengulangi pertanyaanku, ‘’apa bu Agil ada gitu?’’.

‘’Kemarin ia pingsan, beberapa orang mengangkatnya. Lalu ia pulang ke desa. Menanti ajal ‘’, jawabnya.

Mendengar jawaban itu sontak aku terhentak dari lamunanku. Aku berlari sekuat tenaga dan pulang. Mengemasi barang dan langsung pergi ke alamat yang telah aku miliki. Aku seakan buta, namun tetap saja ingin melihatnya. Betapa tidak, saat aku mulai mencintainya ia akan meninggalkan aku.

Rumahnya jauh dari kota, sebuah desa yang sangat terpencil. Dari sebuah desa aku harus berjalan kaki selama setengah jam untuk mencapai rumahnya. Rumahnya terpisah dari desa, dan hanya ada 1 rumah di puncak bukit ini. Dikelilingi kebun nan hijau terawat. Di depan pintu aku memanggil namanya dengan segenap kecemasan dalam hatiku. Berkali-kali aku melakukan hal yang sama, namun tetap saja tak ada jawaban. Dari depan pintu itu aku melihat kejauhan, di kebun kol yang ada di samping rumahnya. Gadis cantik dengan rambut hitam yang tertutup topi putih. Sungguh tak aku duga, ia memakai pakaian yang sama seperti saat aku melihatnya pertama kali. Aku berlari kearahnya.

‘’Agil !!’’, aku memanggilnya.

Namun ia tak menoleh, aku tahu bahwa kata-kataku tak mungkin di dengarnya.

‘’Agil kamu tidak apa-apa ?’’, tanyaku lagi.

‘’Maaf aku lupa, kamu tak mungkin mendengarku ‘’, imbuhku.

Dengan cepat aku membuka tasku, dan aku mengeluarkan buku yang aku beli. Aku membuka bagian yang ingin aku katakan.

“sudah lama sekali aku ingiun mengatakan ini padamu”, cercaku sambil mencari halaman buku yang belum aku temukan. “Aku tak mau tahu, aku harus mengatakan iniu padamu.” “Apapun jawabanmu!”, aku menunjukan lembaran yang berisikan kata bahwa aku menyayanginya.

Aku terdiam dengan keringat yang bercucuran setelah berlari dan melawan kecemasan yang aku ciptakan sendiri. Aku tertunduk.

Samar aku mendengar ia menjawab terbata, “sejak kapan kamu ingin berkata itu?”. Kata-katanya memang tak jelas seperti seorang anak yang tengah belajar membaca. Namun ku tahu semuanya dengan jelas.

“kamu bisa bicara”, tanyaku.

Ia hanya mengangguk pelan.

“Dan kamu juga bisa mendengar? “

“hmm”, jawabnya masih sambil mengangguk.

Hatiku berbunga-bunga saat mengetahui kenyataan ini. Akhirnya kami bercerita banyak hal. Hingga langit mulai memerah dan cahaya mentari mulai tenggelam. Dengan redup cahaya mentari, aku melihat bayangan seorang lelaki tua yang berjalan terhuyung kearah kami. Keringatnya menunjukan beratnya pekerjaan yang baru saja ia selesaikan. Keriputnya melambangkan besarnya tanggung jawab yang telah ia jalankan. Dari matanya aku melihat kecemasan saat ia menatap kami berdua. Dalam diam ia berlalu.

“ayah”, mulut kecil Agil menyapa lelaki tua itu dengan terbata.

“hari sudah hampir gelap, cepat siapkan makanan!”, ia menyuruh anaknya sambil berjalan menjauh dari kami.

Agil langsung bergegas masuk.

Malam ini sungguh terasa sepi, tak seperti dilingkunganku. Suara binatang malam syahdu terdengar bersahut-sahutan meramaikan malam.  Setelah makan, aku duduk di bangku yang terdapat di halaman depan. Dari ketenangan malam, ayah Agil keluar dari rumah dan menghampiriku. Kami berbicara banyak, kaku. Seakan ia menyimpan banyak kemarahan yang sewaktu-waktu siap untuk diledakkan.

“Ibu anak itu meninggal saat is dilahirkan”, katanya.

“Aku tahu, kamu hanya ingin bermain-main dengannya. Dan kamu pun tahu aku tak ingin ia kecewa dan menangis dikemudian hari”, imbuhnya.

“Aku tulus paman, aku tulus mencintainya”, tegasku tanpa menatap matanya.

“Bagaimana kamu bisa mencintai orang yang tak sempurna seperti Agil. Lupakan dia!! Pergilah !! Setelah kamu meninggalkan tempat ini aku yakin kamu akan segera melupakannya !! pergilah bajingan !!” katanya kasar terngiang ditelingaku.

Dari dalam rumah aku melihat Agil yang menangis bersandar pada daun pintu. Air mata itu menetes perlahan dari celah-celah matanya.

“Agil ! Masuk!”, bentak si ayah.

‘’oke aku akan pergi, tapi tidak untuk menyerah dan melupakannya’’, aku beranjak setelah ranselku dilempar jauh ke jalan.

***

Dengan gontai aku melangkah meninggalkan tempat itu.

***

Di tempat lain Agil menulis sebuah surat untuk ayahnya.

Ayah, aku hanya ingin bahagia. Dan tak menutup kemungkinan bahagiaku adalah bersamanya. Ayah jangan cemas, aku kembali ke kota. Aku sayang ayah. Anakmu Agil.

Air mata ayahnya menetes saat membacanya, namun bukannya luluhnya hati yang ia dapat. Rasa marah yang ada di dalam hatinya kian membuncah. Emosi yang ada kian meninggi. Dengan mata yang kian memerah ia berkemas.

***

Hari itu aku membawa Agil kembali ke kota. Dalam perjalanan hujan deras mengguyur. Di sebuah tepian jembatan tanah longsor, sehingga jembatan tak dapat dilalui lagi, untuk melintas kami harus menunggu pagi. Kami kembali ke desa terdekat. Disana ada sebuah masjid tua yang Nampak indah dan terurus. Kami berteduh. Agil masuk kedalam masjid. Ia duduk tepat di depan mimbar masjid.

“Y Alloh, ijinkan aku mencintainya dan ijinkan aku bersamanya”, aku berdoa dalam hati.

Agil merapatkan tangan seraya berdoa. Aku tak tahu apa yang ia minta. Namun sekiranya itu semua sama dengan apa yang aku minta. Nampak jelas rona bahagia di wajahnya. Aku keluar masjid dengan perlahan, tanpa suara. Berlari keluar melawan hujan. Mencabut rumput bunga yang tertanam di sepanjang jalan. Aku memberikan padanya. Setangkai rumpu aku ambil dan aku lingkarkan di jarinya yang seakan seperti cincin.

“dengan ini aku menikahimu, apakah kamu mau menikah denganku”, aku meminangnya.

Ia mengangguk.

***

Tunggu kisah selanjutnya yaaa…

2 thoughts on “(cerbung) selalu sayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s