(Cerbung selalu sayang III) Kenangan terindah

Oleh Gilang Sri Rahayu

***

Pipiku masih nyeri, terasa pedih. Pukulan ayah tidak hanya melukai fisikku namun kata-katanya masih terngiang jelas di kepalaku sehingga menorah luka lain. Bagaimana tidak … saat aku mencoba menjelaskan segala sesuatu yang terjadi aku menerima kenyataan pahit. Istriku sakit, ia tidak bisa hamil, jika itu terjadi maka kecil kemungkinan baginya untuk dapat selamat. Bagaimana bisa … aku yang berperan sebagai suaminya sebagai teman hidupnya, seseorang yang selalu menemani hari-harinya menjalani hidup tidak mengetahui ini. Dulu ia berkata bahwa ini akan dijadikan kejutan untuk ayah, tapi apakah ia hanya ingin menutupinya dariku, kejamnya hidupini saat seorang lemah seperti aku harus menyiapkan sesuatu yang tidak pernah diharapkan orang lain. Apa ini adil, Tuhan seandainya Kau biarkan aku memiliki ke-2-nya itu akan menjadi sesuatu yang terindah dalam hidupku. Namun kini Kau hanya ijinkan aku untuk memilih 1 dari keduanya, pastilah aku memilih bidadariku.

***

‘’ apakah dokter sudah tau semuanya tentang agil …’’, tanyaku.

‘’Sebelumnya maafkan saya pak, meskipun saya telah disumpah sebelum menjadi dokter untuk tidak melakukan sebuah kebohongan. Namun saat itu agil memohon kepada saya untuk tidak mengatakan perihal penyakitnya ke bapak. Bagaimanpun saya sangat kenal dekat dengan agil, sejak ia pindah ke kota ini ia selalu melakukan konsultasi dengan saya. Untuk kali ini saya benar-benar minta maaf’’, jawab dokter itu.

‘’Jujur saat ini saya sedang binggung, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. agil adalah satu-satunya orang yang saya sayangi. Dan saya masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Saya tidak mungkin siap, tidak akan pernah siap untuk hal ini’’, sesalku.

‘’Saya tahu perasaan bapak’’, katanya.

Aku hanya terdiam tak mampu mengatakan apa yang harus aku katakan.

‘’Beberapa bulan yang lalu agil datang ke rumah sakit ini. Ia mengatakan bahwa ia merasa tidak enak badan. Setelah kami melakukan pemeriksaan kami tahu bahwa agil hamil, saat itu usianya sudah 2 bulan. Saya sudah menyarankan untuk menggugurkan namun ia bersikeras untuk mempertahankan janin yang ia kandung. Ia menangis dan memohon agar bayi ini dapat lahir dan menikmati hidupnya. Cintanya sungguh besar untuk anda pak. agil sadar ia tak akan mampu menemani bapak hingga akhir, hanya kehadiran anaklah yang dapat menggantikannya. Saya berharap bapak mengerti’’, ceritanya.

Aku langsung keluar ruangan dengan terisak dan meneteskan bulir air mata.

***

Sesampainya dirumah, lagi-lagi aku tak menemukan agil. Aku bingung bukan kepalang. Dimana dia …

Aku menemukan surat, diatas meja makan yang telah lengkap dengan makanan seperti biasa.

Untukmu pangeranku,

Hari ini adalah hari dimana aku harus berkonsultasi dengan dokterku. Namun alangkah terkejutnya aku ketika aku melihat kau telah disana. Aku tak sanggup melihat kau menangis karena aku. Bagaimanapun juga kesedihanmu adalah suatu hal yang membuatku merasa menyakitimu. Aku mencintaimu sayang. Mungkin sekarang kau telah tau semuanya, dan aku dapat membaca keinginanmu. Dengan jujur aku katakan, aku tidak mau membunuh bayi ini. Aku pergi sampai hari aku akan melahirkannya. Dan jika memang aku tak selamat, akan aku pastikan bayi ini sampai disisimu. Rawatlah ia dengan cintamu, seperti cintamu kepadaku. Jadikan ia penggantiku, sayangi dia.

Istrimu agil….

***

Sudah dua minggu aku mencarinya, tak ada kabar. Namun suatu hari ia mengirimkan surat untukku dia mengatakan tentang keadaannya dan juga bayinya. Aku cukup lega dengan kabar itu, tapi kerinduan ini seakan belum terobati tanpa adanya sebuah pertemuan. Dan aku yakin ia juga rindu padaku. Jika kau ingin membalas suratku kirimkan kealamat ini. Dan jangan sekali-kali menemuiku karena aku akan semakin jauh meninggalkanmu ia mengancamku.

agil ku tersayang…

Aku rindu kepadamu, aku sangat rindu. Aku ingin kita bersama lagi. Jangan pernah berkata kau akan meninggalkanku. Mari kita rawat anak kita bersama. Aku ingin bersama kalian. Setelah kau baca surat ini kau akan tahu bagaimana aku sangat merindukanmu. Setiap hari aku meletakkan karangan bunga yang sama dengan bunga yang kujadikan cincin pertunangan kita. Aku meletakkannya di jembatan tempat kita menyatukan hati kita dulu. Tahukah kau … itu adalah kenangan terindah dalam hidupku.

Pulanglah sayang …. Aku merindukanmu sungguh-sungguh merindukanmu.

Suamimu, Andi …

***

Aku tahu bahwa engkau selalu meletakkan bunga di jembatan itu. Karena aku masih dapat merasakan cintamu. Sayang meski aku tak disampingmu, jangan kau sia-siakan hidupmu. Kamu nampak kurus dan tak terurus. Aku sedih melihatmu seperti itu, aku ingin kau bahagia meski kita tak selalu bersama. Anggaplah ini sebagai suatu pelajaran bagimu, karena kita saling tahu bahwa kita tak akan selamnya bersama.

Sayang aku punya kabar gembira, sekarang kamu bisa menelponku jika kamu merindukanku. Aku rindu lembut sapaanmu.

Agil …miss u honey …

Setelah membaca surat itu aku langsung menghubunginya.

‘’ kenapa kamu meninggalkan aku …’’, tanyaku.

Diujung sana ia menjawab ringan, ‘’ karena aku menyayangimu’’.

‘’bukankah kita masih bisa hidup bersama …’’, tanyaku.

‘’aku menyayangimu sayang, aku harus melakukan ini. Aku tak mau menjadi beban untukmu’’, sambil terisak ia menjelaskan.

‘’sayang kamu pucat sekali … sayangilah dirimu seperti kamu menyayngiku’’, tambahnya. Kamu tak usah mencariku[seolah ia melihatku memutar pandanganku], dari sini aku selalu bisa menatapmu, aku melihatmu yang dengan tulus meletakkan bunga-bunga itu’’, katanya lagi.

‘’kamu dapat melihatku … bukankah ini tidak adil, aku di sini tak dapat menatapmu. Kamu curang.. inikah cintamu, inikah caramu menunjukkannya’’, kataku.

‘’aku disini sayang’’, terdengar merdu suaranya dibelakangku. Seketika aku memeluknya, mencurahkan rasa rindu yang seakan telah menggunung.

Dalam isakan aku bertanya lagi, ‘’kenapa kamu melakukan ini …’’.

Ia pun menangis dan menjawab, ‘’karena aku tahu kamu akan lebih memilih aku dari pada anak ini’’.

‘’tapi kenapa …’’,tanyaku. ‘’kenapa kamu memilih ini semua’’, imbuhku.

‘’kita hanya akan tua dan mati, namun anak ini … di…dia akan tumbuh dewasa dan menikmati indahnya hidup dengan ayahnya. Dan aku yakin ayahnya juga akan lebih bahagia’’, tangis kami pecah bersamaan.

‘’mari kita pulang, jangan katakana itu lagi. Kita akan merawatnya bersama, dia akan tumbuh dengan kedua orang tuanya’’, kataku.

‘’kamu yakin …’’, tanyanya.

Aku mengangguk dan ia kembali kedalam dekapanku.

***

Hari-hari kami dipenuhi dengan kecemasan menunggu kelahiran anak pertama kami. Karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Aku bimbang. Namun ada kepuasan setelah aku dapat bertemu dengannya.

Sejak kepergiannya saat itu aku lebih dekat dengan ayah mertuaku. Dan sebagian besar hari kami lalui bertiga.

Sekarang sudah memasuki bulan kesembilan. Perut agil semakin membesar. Bayi kecil itu menendang perut ibunya dengan lebih kuat yang menandakan bahwa ia bayi yang sehat.

Suatu hari, agil memintaku untuk melakukan foto bersama, aku, ayah dan juga agil. Lucu, namun ada kesedihan yang Nampak antara aku dan ayahku. Dan setiap kali kami Nampak sedih dalam gambar itu, agil meminta untuk mengambil ulang gambar.

‘’Kenapa dengan kalian… janganlah menanggis, janganlah kalianperlihatkan kesedihan itu. Bukankah kelak anak ini akan menjadikan foto ini sebagai kenangan untuknya’’, katanya manja sambil mengelus perutnya.

‘’Apakah kalian tahu apa yang akan dilakukan anak ini kelak ketika ia melihat wajah kalian yang sedih …’’, katanya sambil menghela nafas.

‘’Ayah-ayah mngapa dalam foto ini hanya ibu yang tersenyum’’, ia menambahkan dengan logat anak kecil.

Ia hanya tak mau kalau suatu saat anak kami bertanya kenapa hanya ibunya yang tersenyum. Aku hanya bisa menangis dan ayahku tak kuasa untuk memandang wajah anak semata wayangnya yang begitu tegar.

***

Sebelum mendekati prediksi hari kelahiran buah hati kami, kami memutuskan untuk tinggal di kota dengan harapan kami mendapatkan kemudahan karena lebih dekat dengan rumah sakit.

Hari itu pun tiba. Aku agil dan ayah mertua mengiringi agil menuju ke rumah sakit namun dalam perjalanan agil sudah merasa bayinya akan keluar. Kecemasanku bertambah. Aku menjaga kesadaran agil aku takut terjadi sesuatu kepadanya.

Sesampainay di rumah sakit. Perawat membawa agil keruang operasi. Karena ia tidak mungkin melahirkan dengan normal.

‘’Sayang kamu jangan menangis’’, katanya.

‘’Aku tidak menangis ini air mata bahagia’’, dia pasti tahu kalau aku berbohong.

‘’Ayah dan kamu, sayang tolong jaga anak ini’’, ia memohon. Aku melihat ketulusan dan air matanya yang mulai menetes perlahan. ‘’Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi setelah setelah aku masuk ke ruang itu. Aku hanya berharap kita dapat bersama, namun jika aku tidak mendapatkan mimpi itu, aku akan berusaha agar anak ini dapat menemani kalian.’’

Aku hanya mengangguk pelan.

‘’Sayang, jika aku tak dapat lagi bersamamu menikahlah dengan orang lain yang bisa membuatmu bahagia’’, pesannya.

Tiga jam berlalu panjang. Dokter pun keluar dari ruang operasi.

‘’Selamat pak andi anak anda perempuan’’, kata dokter.

‘’Bagaimana keadaan istri saya dok …’’, tanyaku ragu.

‘’kami sudah berusaha semaksimal mungkin ….’’, dokter mengatakan suatu hal yang tidak ingin aku dengar selama ini.

God,, kenapa … kenapa ini terjadi pada kami.

***

Satu tahun berlalu setelah kepulanganya ke surga. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Anakku tumbuh tanpa ibu yang seharusnya ada untuk agil [anak kami sengaja kami beri nama sama dengan ibunya itu lah permintaan terakhirnya]. Aku mencurahkan semua perhatianku padanya, setiap kali aku kerja, ayah menjaganya bersama seorang suster yang aku pekerjakan. Dan sampai saat ini aku tak ada niat sedikitpun untuk mencari penggantinya, meskipun itu amanat darinya. Dan ini akan aku pertahankan untuk selamanya.

‘’pak andi’’, sapa suster dirumahku.

‘’iya ada apa sus …’’, jawabku.

‘’tadi saat saya bersih-bersih kamar agil, aku menemukan ini dibawah ranjang si kecil pak ‘’, sambil menunjukkan sebuah cd yang masih Nampak baru. ‘’saya rasa ini untuk bapak dari alm. Ibu.’’

Aku tercengang, saat aku merindukannya dia masih saja hadir dalam bentuk lain.

Aku segera masuk kamar tanpa berkata-kata lagi.

Di dalam kamar aku memutar cd itu.

‘’Hai sayang, apa kabar. Pasti kamu merasa sedih karena kepergianku. [Dalam video itu ia pun menangis.] Kamu tahu, akupun tak ingin meninggalkanmu, ayah dan anak kita. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, Tuhan menginginkan hal lain. Mungkin kita pernah merencanakan segala sesuatu yang indah namun semuanya akan kembali padaNYA.’’

‘’kamu pasti akan menganggap aku jahat sayang, tapi ini semua buat kamu. Video ini aku buat saat aku meninggalkanmu waktu itu. Aku membuatnya agar kamu selalu mengingatku. Agar kamu dapat menghapus rasa rindumu padaku. Aku benar-benar jatuh cinta padamu sayang. Kamu tahu kenapa, karena kamu tak hanya mampu membuatku jatuh cinta seperti orang kebanyakan. Tapi kamu juga bisa mencintai aku, mencintai aku apa adanya. Dengan segala kekuranganku.’’

‘’aku tak akan menangis lagi sekarang sayang. Karena aku tak mau anak kita melihat aku menangis, meski saat ini aku menangis, aku menangis bukan karena aku tahu aku akan mati. Tapi aku takut, aku takut kehilangan kalian, aku takut tak dapat berjalan bersama dengan kalian berdua. Aku takut. Aku sungguh takut. Sayang katakanlah pada anak kita, bahwa ibunya selalu menyayanginya. Ajarilah ia cara mengenal dunia. Ajarilah ia cinta seperti cinta yang telah kau tunjukkan padaku.’’

‘’sayang hanya ini permintaan terakhirku, jaga ayah dan anak kita. Maafkan aku sayang aku tak dapat mendapingimu selamanya.’’

‘’sayang, menikahlah lagi … menikahlah dengan orang yang kamu sukai, menikahlah dengan orang yang jauh lebih baik dariku. Temukan ia, berbahagialah denganya. Untukku sayang. Semoga kamu berbahagia dan aku selalu ada di hatimu.’’

Sungguh tidak dapat di percaya, dia menyiapkan pesan sebelum ia pergi. Air mata ini tak akan pernah habis untuk mengenangnya, ruang hati ini akan selalu ada celah untuknya. Namun jika aku harus membagi hati ini dengan hati yang lain aku hanya akan membaginya dengan anakku dan juga keluargaku. Karena bagiku, tak ada seorangpun yang dapat menggantikannya dalam ruang hatiku. Aku akan selalu mencintainya.

– The End –

Maaf yah kalo ceritanya jelek..hee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s