(Cerbung selalu sayang II) Kenyataan Pahit

Oleh Gilang Sri Rahayu

Hari ini aku sampai di rumah setelah sehari semalam menginap di sebuah vila kecil di kaki gunung .  Hujan kemarin masih menyisakan sejuta kenangan yang akan aku kenang untuk selamanya. Aku beranikan diri mengenalkan Agil kepada kedua orang tuaku. Aku berkata pada mereka bahwa aku telah meminangnya kemarin. Ayah, ibu dan salah seorang temanku yang kebetulan berada disitu menyambut dengan riang. Aku bersyukur keluargaku menyetujui kami.

Aku bertekat setelah malam ini aku akan mencari sebuah rumah kontrakan dengan uang tabungan yang aku miliki. Meskipun hanya kecil dan sempit pastilah aku akan bahgia hidup bersama istri yang aku sayangi.

***

Ayah Agil masih terus mencari anak semata wayangnya. Ke kontrakan lama Agil dan juga ke sekolah tempat Agil mengajar. Ketika ia tiba ditempat kerja Agil ia bertanya kepada bapak renta yang tengah menyapu halaman yang dipenuhi oleh daun kering. ‘’ Pak, apa guru Agil ada ? ‘’.

‘’Hari ini sekolah pulang lebih awal, murid-murid dan guru sudah tidak ada ‘’, jawabnya.

Ketika ayah mengulangi pertanyaannya, ‘’apa bu Agil ada ?’’.

‘’Kemarin ia pingsan, beberapa orang mengangkatnya. Lalu ia pulang ke desa. Menanti ajal ‘’, jawabnya.

Jawaban yang ia dapatkan sama seperti ketika aku menanyainya namun ia tidak cemas. Ia bergegas pergi meninggalkan sekolah itu. Dari kejauhan masih terdengar gumaman dari si kakek, “ Hari ini sekolah pulang lebih awal, murid-murid dan guru sudah tidak ada. Kemarin ia pingsan, beberapa orang mengangkatnya. Lalu ia pulang ke desa. Menanti aja.”

***

Pagi ini aku buru-buru pergi ke kantor, hingga aku tak sempat mencium kening istriku. Ia pun mengingatkanku (dengan miik wajah manja) untuk menciumnya. Aku mendekat, aku membelai rambut panjang yang mengantung menutupi keningnya. “ Aku berangkat sayang”, kataku.

“hati-hati sayang”, jawabnya masih dengan manja.

Pukul 12.00, aku bersiap pulang untuk makan siang. Ini merupakan kebiasaanku setelah menikah, lagi pula jarak antara kantor dan rumah cukup dekat hanya 5 menit perjalanan dengan motor.

Namun siang itu aku tak menemukan istriku di rumah. Hanya ada makanan di meja makan. Aku sempat kebingungan, dimana kekasihku?

aku menemukan secarik kertas di atas meja. “sayang aku keluar sebentar jika ketika kamu pulang aku belum kembali, makanlah dulu. Ku menyayangimu Agil”.

Aku merasa lega. . . Setelah selesai makan siang aku kembali ke kantor seperti biasa. Dari luar gerbang rumah Agil berlari menghampiriku dengan wajah yang berseri-seri dan bersemu merah. Ketika ku tanya ada apa ia semakin tersipu dan menunjukkan secarik kertas yang menunjukkan kehamilannya. Oh God betapa senangnya aku hari itu. Aku tak kuasa untuk melimpahkan kebahagiaanku ini. Aku menciumnya lantas berlari cepat melompat seperti anak kecil dengan mainan barunya. Agil tersenyum manis melihat tingkah polahku. — aku berangkat kerja.

Di kantor aku tersenyum sendiri kadang tertawa, aku tak tahu apa yang aku lakukan. Dan setiap aku bertemu temanku aku berkata, “aku akan menjadi ayah”. Atau, “istriku hamil aku akan menjadi seorang ayah”.

Jam pulang tiba aku tak sabar bertemu dengan istriku.

***

Bulan demi bulan tlah kami lalui bersama. Meski tidak pernah bertemu secara langsung dengan mertua lelakiku, kami selalu bertukar kabar melalui surat. Meski tak pernah sekalipun ia menjawabnya (mungkin masih belum menerima kenyataan bahwa anaknya menikah dengan aku ).  Namun sampai detik ini ayah mertuaku belum tau perihal kehamilan istriku. Istriku pernah berkata, “jangan sampai ayah tau tentang kehamilanku, aku ingin memberikan kado terbesar untuknya. Aku akan memberinya cucu pertama untuknya.”

Aku pun mengiyakan permintaannya toh gak ada salahnya kan.

Hari ini tepat bulan ke-tujuh kehamilannya. Selama ini aku merawatnya sebaik yang aku bisa. Mulai dari makanan, nutrisi, perlengkapan bayi dan segala tetek mbengeknya kami mengurus bersama. Jadwal periksanya pun tidak pernah terlewatkan, meski aku melihat keanehan diwajah dokter yang menanganinya. Hari-hari kami dipenuhi kebahagiaan.

Aku bekerja seperti biasahanya saja lebih sering pulang untuk menemani istriku dan juga buah hatiku yang sebentar lagi akan lahir. Biasanya setelah pulang kerja aku langsung pulang. Namun hari ini aku ingin membelikan karangan bunga mawar sebagai ungkapan cintaku dan juga sebagai rasa terimaksihku padanya.

Dalam perjalanan pulang aku bertemu dengan ayah mertuaku, wajahnya masih Nampak menyimpan dendam. Dengan wajah marah  ia menghampiriku. Tanpa berjabat tangan terlebih dahulu ia bertanya, “bagaimana keadaannya?”

Aku sedikit bergetar untuk menjawab, aku takut. Aku takut jika harus kehilangan Agil, istri yang selalu mengisi hari-hariku selama ini. Namun dengan keteguhan hati aku menjawab, “kami menikah, Agil baik-baik saja”.

Dengan cepat ayah mertuaku mengangkat kerah bajuku, “apa kalian menikah? Aku kan sudah bilang Agil tak boleh menikah!”

“Kenapa seorang wanita seperti Agil tidak boleh menikah, ia manusia biasa yang berhak memilih jalan hidupnya sendiri! Bukan anda yang menentukan!”, jawabku dengan nada yang sedikit meninggi.

“Agil bukan anak kecil lagi yang harus menuruti anda pak!”, tambahku.

“Kamu tidak tahu apa-apa!”, tambahnya lirih seraya melepaskan cengkramannya.

“Apa yang tidak aku mengerti? Aku hanya tak memahami keegoisan bapak yang ingin mengekang anak bapak seumur hidupnya tanpa memberikan kehidupan normal bagi anak perempuannya!”, sangkalku dengan nada bergetar.

“Ibu Agil meninggal saat Agil lahir. Apa kau tahu kenapa ibu Agil meninggal?”, ungkapnya.

Dari depan beliau aku melihat air mata yang menggenang di sudut-sudut mata tuanya.

“Kamu tahu kenapa aku tak membiarkan dia menikah?”, tambahnya tegas.

“ Ibu Agil berjantung lemah, hal itu menyebabkan kecilnya kemungkinan untuk melahirkan karena dikhawatirkan sang ibu tidak dapat melahirkan dengan kondisi yang seperti itu”, katanya.

“Lantas apa hubungannya dengan Agil?”, tanyaku melunak.

“Aku takut Agil menikah”.

“Anda takut Agil menikah? Bagaimana bisa? Agil adalah Agilyang berbeda denga ibunya!”, bantahku.

“Aku takut Agil menikah. Dengan menikah besar kemungkinan Agil untuk hamil. Dan aku tidak mau Agil mengalami hal yang sama dengan ibunya. Dulu Agil mengalami kesulitan berbicara, hal itu dikarenakan kurangnya oksigen yang ia dapat saat ia berada di kandungan sehingga menyebabkan saraf  bicaranya terhambat. Dan setelah beberapa tahun setelahnya, aku baru tahu Agil mempunyai kelainan jantung yang sama seperti ibunya”.

Aku hanya terdiam tak terasa aku juga meneteskan air mata.

“Kenapa kau menangis? Apakah kamu semakin kasihan dengannya? Atau jangan-jangan aku telah terlambat?”, tanyanya penuh kebimbangan.

“Sebelum terlambat tinggalkanlah Agil, barkan aku yang merawatnya!”, tambahnya.

“ Sekarang adalah bulan ke-7 kehamilan Agil”, aku menjawab dengan penuh penyesalan. Seketika sebuah pukulan keras mendarat telak di wajahku.

 

To be continued. . .

 Tunggu final edition nya yah ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s