belom ada judul lagi…..

oleh Gilang ****pada 8 Juli 2011 pukul 12:21 ·

Aku ingin menuliskan sebuah cerita yang mungkin akan membuka mata hati kalian.

Ada sepasang sahabat yang dulu pernah sangat dekat, namun kedekatan mereka tidak memiliki arti yang jelas. Mungkin sekedar mengagumi atau hanya sebuah pertemanan biasa. Sayangnya tidak ada yang mengetahui apa yang mereka rasakan selain mereka sendiri. Hingga akhirnya aku ingin mengungkapkan apa yang mungkin pernah mereka rasakan.

Dua sahabat ini selalu bersama, mereka berbagi suka dan duka selagi mereka masih bisa bertemu. Karena mereka yakin suatu saat perpisahan akan mereka hadapi. Tak tahu itu kapan?, hanya waktu yang akan memisahkan mereka. Namun tak sekalip[un mereka mengungkapakn perasaan masing-masing, bukan karena malu atau canggung tapi lebih karena rasa saling menghargai persahabatan mereka. Nanda itu panggilan bagi sahabat lelaki, dan Dinda adalah nama si gadis.

Setiap kali berangkat sekolah mereka selalu bersama, berpisah ketika mulai masuk ke kelas masing-masing dan pulang bersama kembali. Banyak yang iri melihat kedekatan mereka, mungkin aku juga. Suatu hari saat perjalanan pulang sekolah, mereka bersendau gurau tak seperti biasanya. Ada guratan senyum manis dari Dindha ketika mendengar Nanda mengucapkan sesuatu. Rona wajah mereka memerah seindah warna langit senja. Apa yang mereka katakan tidak ada seorangpun yang tahu. Yang terlihat hanya kepala Dindha seakan menggangguk setuju.

Hari perpisahan pun tiba, hari ini adalah hari kelulusan. Dindha harus melaksanakan apa yang telah menjadi cita-citanya selama ini, dia akan melanjutkan pendidikannya di negeri orang. Dindha mendapatkan beasiswa untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi ke Universitas Sorbone. Sedangkan Nanda juga menjalani apa yang telah ia rencanakan untuk menggapai masa depannya. Nanda bersikeras mengikuti pelatihan kemiliteran selama empat tahun. Seleksi demi seleksi ia lewati dengan ketegaran hati yang sangat kuat, dan akhirnya ia pun dapat diterima.

Perpisahan itu mereka rayakan dengan gembira penuh dengan canda dan tawa. Tak terlihat kesedihan diantara mereka, namun apalah yang kita tahu tentang perasaan orang lain. Kembali lagi hanya mereka yang tahu. Mungkin rasa sedih mereka dapat tertutupi dengan kegembiraan teman-teman yang lain atau juga karena mereka larut dalam kesenangan yang lain. Karena dapat melewati ujian atau munkin juga karena terbukanya satu jalan untuk meraih masa depan yang semakin jelas terlihat.

Satu persatu teman mereka pulang, keanehan mulai terlihat saat itu. Kegembiraan yang tadinya menyelimuti semuanya berubah menjadi kesunyian yang tak diketahui penyebabnya. Ketika hanya tertinggal mereka berdua segalanya benar-benar berubah. Nanda mulai bertanya “kapan kamu berangkat? Kapan kamu akan kembali lagi?” Dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan Dindha.

“Kita akan tetap berhubungan”, kata mereka yakin.

“Aku akan ikut mengantarkanmu ke bandara”, kata Nanda.

“Aku akan menunggu kabar darimu. Jangan lupa tentang janji kita, tuliskanlah apa yang kamu rasakan selama kita dekat”,kata Nanda. “Aku akan menghargai kejujuranmu dalam surat itu”, imbuhnya.

“Aku tak akan lupa, Nand”, kata Dindha. Akan aku tuliskan apa yang aku rasakan pada selembar kertas bila selembar kertas tak cukup akan aku tambah lembar lagi dan seterusnya”, kesedihan mulai datang. Malam itu pun berakhir.

*******

Dindha masih sibuk dengan kuliahnya dan Nanda masih harus mengikuti pendidikannya. Hampir empat tahun mereka berpisah. Tanpa ada kabar sedikitpun, semua mereka jalani apa adanya. Tidak ada alat secanggih sekarang untuk berkomunikasi.

Akhirnya tahun kelima, waktu yang sangat mereka nanti-nantikan datang. Dindha kembali ke Indonesia dan pulang kerumah membawa gelar yang membuat orang tuanya sangat bangga. Begitu juga dengan Nanda. Pada hari yang sama mereka sepakat membuka surat yang telah mereka tulis. Mereka saling menukar surat ketika malam sebelum Dindha berangakat.

 

Sahabatku Nanda

Apa kabar sahabat……. Aku tahu kamu akan membaca surat ini tepat ketika waktu yang telah kita tentukan tiba, namun jika tidak aku juga tidak akan menjadikan itu sebagai suatu masalah. Namun itu tak mungkin karena aku mengenalmu sedekat kamu mengenalku. Aku tak tahu perasaan apa yang aku rasakan ketika aku bersamamu. Namun aku merasa bahagia saat bersamamu. Akan aku tuliskan semua yang aku rasakan pada malam ini.

Nanda, aku tahu perpisahan ini akan tiba dan kita harus tetap menjalaninya. Bagaimanapun kita membenci takdir ini, dan sekeras apa kita mengutuknya kita harus tetap berpisah. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat bagi suatu perpisahan. Jika sekembalinya aku dari perantauan aku nampak berubah maka itu bukanlah aku karena aku yang sebenarnya adalah aku yang dulu kau kenal. Jika suatu ketika aku bertemu denganmu namun aku tak menyapa, maka sapalah aku. Bukan aku yang tak ingin menyapamu tapi aku telah menyambutmu dengan hatiku. Dalam empat tahun ini aku ingin kembali seperti saat aku berangkat dahulu. Aku menanggis jika mengingat bahwa aku akan jauh dari sahabat-sahabatku dan tentu saja kamu……Nanda.

Aku kuat kan? Aku tak akan menanggis ketika berpisash denganmu, dan apakah kau ingat ada airmata ketika kita terakhir kali bertem? Itulah aku dengan segala kebohongan yang ada dalam perasaanku.aku percaya air mata hanya akan menambah sayatan di hati orang-orang disekitarku. Karena itulah aku diam, diam seribu bahasa ketika aku berada di dekatmu. Aku takut, takut jika hanya karena satu tindakan bodohku dapat merusak semua impianku selama ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s